Showing posts with label Education. Show all posts

Mendikbud Muhadjir Effendi /IST
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Prof Dr Muhadjir Effendi di sela kunjungan kerjanya di Kabupaten Malang, Jawa Timur, Jumat mengatakan bahwa pihaknya akan memprioritaskan pengangkatan 6.300 calon pegawai negeri sipil (CPNS) guru.

Guru-guru yang diperioritaskan tersebut adalah guru-guru yang nantinya akan ditempatkan di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

"Memang ada pengangkatan guru untuk menjadi CPNS sebanyak 6.300 orang pada tahun ini, namun pengangkatan guru ini diprioritaskan untuk ditempatkan di daerah 3T, termasuk ada empat daerah 3T di Jawa Timur, yakni Kabupaten Bangkalan, Sampang, Situbondo, dan Bondowoso," katanya.

Hampir di seluruh wilayah Indonesia, tak terkecuali di Kabupaten Malang, masih kekurangan tenaga guru. Namun tahun ini, lanjut Mendikbud, tidak ada pengangkatan guru di wilayah Kabupaten Malang maupun lainnya, selain di daerah 3T.

"Kalau Kabupaten Malang masuk daerah 3T, saya bisa dimarahi Pak Bupati. Sebenarnya tidak ada moratorium untuk tenaga pendidik, tetapi memang tidak ada kebijakan pengangkatan tenaga pendidik baru," ujarnya.

Muhadjir pun telah memiliki trik untuk mengatasi kekurangan tenaga pendidik tersebut, yaitu melalui Program Guru Keahlian Ganda di mana guru normatif dan adaptif akan dididik kembali dan dibekali kemampuan mata pelajaran produktif.

"Dengan cara ini, kebutuhan guru, terutama SMK bisa diatasi tanpa mengangkat guru. Ada sekitar 12.000 guru yang lulus pendidikan guru berkeahlian ganda pada tahun lalu. Dan, tahun ini ada 15.000 guru yang mendaftar program ini," jelasnya, yang juga menambahkan bahwa Kemendikbud telah menargetkan sekira 40.000 guru dengan keahlian ganda pada 2018.

"Ini berlaku untuk semua keahlian produkti, sehingga satu guru bisa mengajar beberapa mata pelajaran," sambungnya. (ant)

Pemkot Bogor Komitmen Lanjutkan Program USAID PRIORITAS
Foto Bersama – Erna Irnawati, Koordinator USAID PRIORITAS Jawa Barat (duduk empat dari kanan) berfoto bersama dengan jajaran Dinas Pendidikan, Kementerian Agama dan para fasilitator Daerah pada kegiatan penutupan program USAID PRIORITAS, Rabu (12/04).
TJARITJARI.COM, Bogor – Selama ini, banyak kegiatan proses belajar mengajar di kelas monoton, satu arah dalam pembelajaran, hanya guru yang aktif, sehingga siswa menjadi bosan dalam belajar. Hal ini menjadi perhatian serius kalangan pendidik dan praktisi pendidikan dalam memperbaiki mutu kualitas pembelajaran di dalam kelas sehingga berdampak pada naiknya prestasi akademis siswa.

Salah satu program peningkatan mutu kualitas pembelajaran adalah melalui replikasi pelatihan pembelajaran modul 1, 2, 3, dan 4 Pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan untuk guru-guru baik tingkat Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI) maupun Sekolah Menengah Pertama dan Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs). Pelatihan tersebut diperuntukkan bagi guru-guru yang ada di Kota Bogor melalui program USAID PRIORITAS yang sudah bekerjasama hampir selama lima tahun sejak tahun 2013. Program kerjasama tersebut ditindaklanjuti melalui Dinas Pendidikan dan Kantor Kementerian Kota Bogor.

Uju Djuwana, Kabid Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Dinas Pendidikan Kota Bogor mengaku terbantu dengan pelatihan yang diselenggarakan USAID PRIORITAS yang telah bekerjasama dengan Dinas Pendidikan, “sebagai Kabid GTK, saya serius ingin meningkatkan mutu pengajaran guru-guru di dalam kelas, baik di SD dan SMP. Pelaksanaan pelatihan yang telah berjalan selama ini, harus terus dipertahankan bahkan harus ditingkatkan, walaupun USAID PRIORITAS sudah tidak berada di Kota Bogor”, jelas Uju, panggilan akrabnya, di sela sambutan penutupan program USAID PRIORITAS di Aula Dinas Pendidikan, rabu, (12/04).

Uju menambahkan, peningkatan mutu guru harus dimulai dari diri sendiri dan tempat dia mengajar, “Guru adalah fasilitator siswa di dalam kelas, oleh karenanya harus terus ditingkatkan kualitas maupun kapasitas kemampuan mengajar guru, perubahan pembelajaran ke arah yang lebih baik harus ada niat dan komitmen yang baik pula dan dimulai dari guru itu sendiri” tambahnya.

Pemkot Bogor Komitmen Lanjutkan Program USAID PRIORITAS
Beri Piagam – Erna Irnawati, Koordinator USAID PRIORITAS Jawa Barat (kanan) memberikan kenang-kenangan piagam atas dedikasi dan dukungan Walikota Bogor terhadap program USAID PRIORITAS yang diwakili oleh Lintang Annisa dari Bagian Kerjasama Kota Bogor, rabu (12/04).
Senada dengan Uju, Hj. Mamay Marlihah, Kasie Pendidikan Madrasah Kantor Kementerian Agama Kota Bogor, mendukung penuh pelatihan USAID PRIORITAS, ”saya mengikuti perkembangan program USAID ini sejak zaman DBE pada tahun 2008 dan itu sangat bagus sekali, sekarang diteruskan oleh program USAID PRIORITAS, walaupun sekarang sudah berakhir, namun semangat tidak boleh berakhir, lanjutkan dan kembangkan” ujar Mamay, panggilan akrabnya.

Lintang Annisa, dari Badan Kerjasama Pemkot Bogor, mengaku bangga Kota Bogor terpilih menjadi mitra USAID sejak program DBE sampai PRIORITAS, ”saya mewakili pemerintah Kota Bogor merasa bangga bahwa Kota Bogor menjadi salah satu mitra peningkatan mutu pendidikan sejak zaman DBE sampai PRIORITAS, kemajuan dan kelebihan program ini sudah disampaikan banyak oleh testimoni para fasilitator, sehingga kami mendukung penuh Dinas Pendidikan Kota Bogor untuk melanjutkan program ini” ujar Lintang.
Pemkot Bogor Komitmen Lanjutkan Program USAID PRIORITAS
Beri Kenang-kenangan – Kabid GTK Dinas Pendidikan Kota Bogor, Uju Djuwana (kiri) menyerahkan tanda cendera mata kujang kepada Erna Irnawati, Koordinator USAID PRIORITAS Jawa Barat di sela kegiatan penutupan program, Rabu  (12/04).

Erna Irnawati, Koordinator USAID PRIORITAS Provinsi Jawa Barat dalam sambutannya, menyampaikan bahwa Kota Bogor ini merupakan salah Kabupaten mitra yang telah berhasil banyak melakukan diseminasi atau penyebarluasan di seluruh sekolah dengan dukungan APBD Kota Bogor, ”tentu ini menjadi modal awal setelah program USAID PRIORITAS sudah tidak lagi berada di Kota Bogor, karena semua pemangku kebijakan mendukung program ini melalui diseminasi mandiri baik dari APBD maupun yang bersumber dari sekolah” ujarnya.

Erna menambahkan, bahwa setelah Kota Bogor menjadi mitra USAID PRIORITAS banyak prestasi yang telah diraih, ”tentu dengan banyaknya prestasi yang telah diraih, ini menunjukkan bahwa program USAID PRIORITAS telah berhasil di Kota Bogor, salah satunya adalah rata-rata nilai UKG guru-guru di Kota Bogor berada di nomor dua setelah Kota Bandung”, tambahnya.
 
Dari pantuan media ini, seluruh peserta tampak aktif mengikuti kegiatan penutupan program ini, “guru-guru di Kota Bogor masih sangat haus akan ilmu, salah satunya dengan kegiatan pelatihan maupun diklat, karena hal itu merupakan bagian dari pengembangan keprofesian berkelanjutan atau program PKB bagi para guru” ujar Siti Djumhurijah, disela-sela testimoni. [ASB]

 Wakil Presiden RTI Amerika Kunjungi SDN Utama Mandiri 1 Cimahi
Guru mengatasi siswa yang terbelakang di kelasnya dengan mengelompokkannya dan mengajaknya belajar membaca secara terbimbing. Tampak siswa cukup percaya diri untuk menceritakan ulang apa yang telah dibacanya. 
TJARITJARI.COM, CIMAHI – Di kelas IV, setiap kelompok siswa tampak sedang asyik membuat kincir angin, layang-layang, roket, atau mobil-mobilan. Mereka tengah berusaha mempelajari energi angin dan kegunaannya dalam kehidupan sehari-hari. Di kelas Matematika, tampak siswa kelas V asyik membuat beragam bentuk kotak berbahas kardus atau kertas karton. Mereka tengah mempelajari beragam bentuk kotak dengan mengidentifikasi jumlah sudut, sisi, dan rusuknya.

Di kelas III, tampak guru sedang melakukan membaca terbimbing untuk sekelompok siswa yang memiliki kemampuan membaca sama. Mereka sedang dibimbing untuk memahami isi buku. Sementara siswa lainnya tampak asyik dalam sesi membaca mandiri.

Di kelas II, tampak guru sedang memfasilitasi siswa membaca bersama, sebuah pendekatan membaca bagi kelas awal dengan menggunakan buku bacaan berjenjang. Fokus membaca bersama saat itu adalah pengembangan kosakata, prediksi, dan tanda baca.
Di ruang kelas IV, Wapres RTI Paul Weisenfeld mengamati siswa
yang sedang mempelajari energi angin dengan membuat layang-layang.

Demikianlah Paul Weisenfeld, Executive Vice President Research Triangle Institute (RTI) Amerika mengunjungi kelas demi kelas di SD Negeri Utama Mandiri 1 Kota Cimahi.

Sekolah ini merupakan salah satu sekolah mitra Badan Pembangunan Internasional Amerika (USAID) melalui program Prioritizing Reform, Innovation, and Opportunities for Reaching Indonesia’s Teachers, Administrators, and Students (PRIORITAS). Mewakili RTI sebagai pelaksana program, Paul ingin melihat langsung dampak program USAID PRIORITAS di tingkat sekolah.

“Saya bergembira dapat menyaksikan langsung kemajuan yang ditunjukkan oleh sekolah ini. Ternyata sekolah ini lebih maju dari apa yang saya bayangkan. Khususnya, dalam hal literasi, proses pembelajaran telah memungkinkan siswa mengalami kemajuan berarti dalam kemampuan membaca. Kemampuan membaca itu sangat penting bagi anak-anak karena ia menjadi dasar dan modal meraih prestasi unggul ke depannya. Kemampuan membaca bisa menentukan kesuksesan anak di masa depan,” papar Paul.
[next]
Paul Weisenfeld juga mengaku kagum atas integrasi yang padu antara proses belajar sains dan literasi di sekolah ini. Menyaksikan proses belajar IPA dan Matematika di kelas IV, Paul mengaku apresiatif pada guru yang telah berhasil memadukan pembelajaran literasi (membaca dan menulis) dalam proses pembelajaran sains. Lebih dari itu, pembelajaran literasi juga didukung dengan beragam program budaya baca di sekolah semisal sudut baca, bangku baca, saung baca, roda pintar, duta baca, dan sokongan perustakaan yang relatif hidup.
Belajar Matematika, tampak siswa melakukan presentasi
cara-cara mengidentifikasi jumlah sudut, rusuk, dan sisi kotak. 

“Dengan proses belajar terpadu antara sains dan literasi, didukung dengan budaya baca yang tumbuh dengan baik, sekolah ini merupakan sekolah literat sekaligus saintifik,” ujar Paul.

Paul Weisenfeld juga memuji kepala sekolah dan jajaran guru yang telah mengelola sekolah dengan baik. Menurutnya, manajemen sekolah tampak sangat mendukung bagi proses pembelajaran sains dan literasi tadi. Tambahan pula, peran serta masyarakat terhadap sekolah ini begitu baik. Komite sekolah dan orangtua berpartisipasi aktif mendukung manajemen dan pembelajaran di sekolah.

Kepala SDN Utama Mandiri 1 Cimahi, Cucum Suminar mengaku terbayar kerja kerasnya selama ini mengelola sekolah ketika menyaksikan kerja keras para guru dalam memfasilitasi proses pembelajaran yang aktif dan efektif. “Anak-anak tampak betah belajar di sekolah ini sehingga sering kali sudah waktunya pulang tapi mereka masih tetap di sekolah,” tuturnya.

Kinerja siswa tercermin pada beragam pajangan karya siswa yang menghiasi ruang kelas, papan pajangan, dan majalah dinding di lingkungan sekolah. Menurut Cucum, dahulu sekolah ini tidak dilirik, kini jadi rujukan dan jadi sasaran kunjungan baik dari luar provinsi bahkan tamu internasional.

Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan Dasar Kota Cimahi Nana Suyatna menyampaikan terima kasih kepada pihak RTI yang telah melaksanakan program USAID di Kota Cimahi. “Kami merasa sangat terbantu dalam mengembangkan pendidikan dasar kelas dunia. Seluruh sekolah mitra dan segenap stakeholder Kota Cimahi merasakan manfaat besar dari program ini dan dampaknya di tingkat sekolah tampak nyata di SD ini,” ucap Nana.
Paul perhatikan keasyikan siswa belajar membaca bersama.
Ia kemudian menyatakan komitmennya untuk memelihara berbagai praktik baik dampak program USAID PRIORITAS dan, menurutnya, langkah-langkah menjamin keberlanjutan program sudah dimulai.

“Kami senang mendengar bahwa upaya menjamin keberlanjutan program USAID PRIORITAS sudah dimulai di Kota Cimahi,” pungkas Paul Weisenfeld. [DS]




SMPN 2 Cigugur Gelar Pameran Kemajuan Sekolah
Kadisdik Kab. Kuningan_Dr. Dian Rahmat Yanuar membuka acara
TJARITJARI.COM, Kuningan – Pemerintah daerah Kab. Kuningan melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan yang bekerjasama dengan USAID PRIORITAS mendorong lebih banyak sekolah yang telah melaksanakan diseminasi untuk menerapkan hasil pelatihan. Selain mendorong mereka untuk mempraktikkan pembelajaran aktif hasil pelatihan, Dinas Pendidikan juga ingin agar setiap hasil pelatihan dimonitoring oleh pengawas serta menggelar pameran kemajuan sekolah.

Salah satu cara sekolah memperlihatkan hasil kemajuannya adalah dengan menggelar pameran pendidikan atau showcase seperti yang dilaksanakan oleh SMPN 2 Cigugur Kuningan. Sekolah yang telah dilatih oleh fasilitator USAID PRIORITAS memamerkan semua keberhasilan yang telah diraih, baik pembelajaran, peran serta masyarakat maupun budaya baca.

“Kami sangat mengapresiasi atas terlaksananya showcase kemajuan SMPN 2 Cigugur ini, banyak kemajuan yang telah dicapai oleh sekolah ini, bukan hanya pembelajaran, numun juga seni budaya, apalagi kegiatan ini juga mendapatkan dukungan dari komite sekolah dan orang tua siswa, ini menjadi bahan semangat kami untuk mendorong sekolah-sekolah lainnya agar melaksanakan pelatihan USAID PRIORITAS baik melalui KKG maupun MGMP” ujar Dr. Dian Rahmat Yanuar, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, di sela-sela membuka acara pameran kemajuan SMPN 2 Cigugur, jum’at (17/03).
Kadisdik, Kepsek SMPN 2 Cigugur dan Komite Sekolah

Dari pantauan media ini, pameran kemajuan sekolah dihadiri oleh berbagai unsur, mulai Camat Cigugur, muspika, masyarakat, orang tua, guru sampai dengan ratusan siswa SD se Kecamatan Cigugur.

”Betul, kami mengundang seluruh unsur muspika, guru, masyarakat, orang tua dan siswa-siswi SD yang ada di Kec. Cigugur untuk menghadiri pameran kemajuan sekolah ini, sekolah ini terus berkembang dan siap untuk maju, pembelajaran juga semakin meningkat setelah guru-guru kami dilatih oleh USAID PRIORITAS” ujar Adang Kusdiana, M.Pd, kepala SMPN 2 Cigugur.

Selain pamerena kemajuan sekolah, juga diadakan berbagai macam lomba dan bakti sosial untuk memeriahkan acara tersebut, ”agar lebih menarik, kami juga adakan kegiatan lainnya, seperti turnamen futsal, tenis meja, pengobatan gratis bersama Rumah Sakit Juanda, sunatan massal serta mengundang mobil perpustakaan keliling” ujar Adang.

Libatkan Komite Sekolah

Kadisdik, ketua PGRI membaca buku di salah satu pameran
kemajuan sekolah
Keberhasilan sekolah ini dalam menyelenggarakan pameran kemajuan sekolah, karena tidak terlepas dari dukungan komite sekolah. Dengan adanya dukungan dari komite sekolah, program-program yang direncanakan berjalan lancar sesuai jadwal, ”ini penting sekali melibatkan komite sekolah dan orang tua, agar semua terlaksana dengan baik, maka perlu dukungan komite sekolah dalam semua program yang diagendakan, siswapun senang dengan keterlibatan orang tua mereka” tambah Adang.

            Selain itu sekolah ini juga terus berbenah, dengan menerapkan sekolah berwasasan lingkungan, seperti pembuatan hidroponik, penanaman pohon, pembuatan rumah taman hijau dan tidak boleh lagi membuang sampah sembarangan. [Ahmad Syaiful Bahri]

Foto bersama Neni Rohaeni dan juara Fathiyah Hasna_Juara story telling.
TjariTjari, Kuningan – USAID PRIORITAS terus mendorong kegiatan proses belajar mengajar di kelas tidak monoton, jangan sampai siswa menjadi bosan dalam belajar. Agar tidak terjadi hal seperti itu guru harus terus memotivasi dirinya untuk mengeluarkan kemampuan terbaik dalam memfasilitasi anak dalam berlajar belajar.

Salah satu program hasil pelatihan pembelajaran aktif guru-guru SMP sudah menampakkan hasil, salah satunya SMPN 1 Cilimus meraih prestasi sejak bermitra dengan USAID PRIORITAS.
Prestasi terakhir yang diraih salah satu siswa SMPN 1 Cilimus adalah juara story telling contest yang diadakan kampus Unswagati Cirebon se wilayah tiga Cirebon. Prestasi bergengsi itu diraih Fathiyah Hasna kelas IX A.

”Alhamdulillah, setelah dibimbing Ibu Neni Rohaeni, pembelajaran Bahasa Inggris jadi mengasyikkan dan menyenangkan, pembelajaran jadi asyik pokoknya” ungkap Fathi, panggilan akrabnya, setelah menerima piala di kampus Unswagati, jum’at (03/02/2017).
Kegiatan pelatihan USAID PRIORITAS yang sudah lama berlangsung di Kab. Kuningan sudah menampakkan hasilnya. Karena ketika pembelajaran berkualitas, tentu prestasi siswa akan mengikuti.
”Kami guru-guru di SMPN 1 Cilimus percaya bahwa hasil tidak pernah mengkhianati proses, ketika proses pembelajaran semakin berkualitas dan baik, maka prestasi siswa akan semakin meningkat, seperti juara story telling di kampus Unswagati Cirebon baru-baru ini” ujar Neni Rohaeni, guru Bahasa Inggris.

Momon Sukiman, Kepala SMPN 1 Cilimus, mengaku merasa terbantu dengan adanya pelatihan model USAID PRIORITAS karena  banyak membuat guru menjadi terbuka pola pikirnya, lebih aktif dalam memaksimalkan lingkungan sebagai sumber belajar,
Penyerahan piala_lomba story telling
“Setelah dilatih USAID PRIORITAS, guru mampu membuat Lembar Kerja Siswa (LKS) sendiri untuk siswa, walaupun sederhana. Selain itu juga diajarkan untuk memahami gender dalam melayani perbedaan individu peserta didik, sehingga tidak akan lagi terjadi ketidakadilan gender, hasilnya adalah prestasi akademik dan non akademik siswa semakin meningkat” ungkap Momon. [ASB]

Beranda BIPA (Bahasa Indonesia Penutur Asing) (Foto: facebook.com/liliana.muliastuti) 
Universitas Muhammadiyah Malang yang bekerja sama dengan Asosiasi Pengajar dan Pegiat Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (APPBIPA) tengah mengupayakan internasionalisasi Bahasa Indonesia agar penggunaannya tidak sampai berkurang.

Kepala APPBIPA Pusat, Dr Liliana Maliastuti, Sabtu (09/04/2016), menuturkan diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) telah membuka ruang yang luas bagi pekerja asing untuk bekerja di Indonesia. Hal tersebut, menurutnya, tidak menutup kemungkinan akan berdampak pada kberukrangnya penggunaan bahasa Indonesia.

"Jika Bahasa Indonesia ini tidak dijaga, akan berdampak pada berkurangnya penggunaan bahasa Indonesia di ruang publik. Oleh karena itu, kami akan terus mengupayakan internasionalisasi Bahasa Indonesia ini," ujar Liliana dalam Pertemuan Nasional APPBIPA di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jawa Timur.

Ibu Liliana juga menegaskan bahwa BIPA akan memperjuangkan agar Peraturan Menteri Ketenagakerjaan (Permenaker) tentang tenaga kerja asing harus bisa berbahasa Indonesia diberlakukan kembali, dalam tanggapannya terkait persaingan tenaga kerja yang begitu ketat di era MEA,  

"Peraturan ini penting untuk melindungi Bahasa Indonesia dan SDM bangsa kita sebagai tuan rumah," ujarnya, tegas.

Untuk itu, di era globalisasi saat ini, lanjut Ibu Liliana, peran BIPA dalam mewujudkan internasionalisasi Bahasa Indonesia sangatlah penting. BIPA merupakan ujung tombak agar Bangsa Indonesia, khususnya Bahasa Indonesia bisa dikenal masyarakat internasional, sebab hal tersebut juga merupakan amanah dari UU No 24 Tahun 2009. 

Akan tetapi Ibu Liliana juga mengingatkan hal lain yang juga penting, yakni pembahasan dan perwujudan sertifikasi bagi pengajar BIPA. Menurutnya, dengan adanya sertifikasi tersebut, nantinya akan ada standardisasi bagi pengajar BIPA. 

"Ini menjadi salah satu pekerjaan rumah yang harus segera diwujudkan," ucapnya. 
Meski saat ini belum ada sertifikasi bagi pengajar BIPA, lanjut Ibu Liliana, APPBIPA selalu bekerja sama dengan badan bahasa dan perguruan tinggi untuk melakukan pelatihan metodologi pembelajaran bagi pengajar BIPA guna terus meningkatkan kualitas para pengajarnya. 

"Mereka tetap harus memiliki kompetensi mengajar yang layak," tambahnya. 
Sementara itu, Kepala BIPA UMM, Arif Budi Wuriyanto mengatakan BIPA UMM selalu mengembangkan program internasionalisasi Bahasa Indonesia. Hal tersebut sudah diawali dengan dibukanya Indonesian Corner di Thailand dan rencananya di negara ASEAN lainnya. 

"Harapannya akan ada pengajar Bahasa Indonesia yang berasal dari negara tersebut," ujar Arif. 

Arif menambahkan, pembelajaran BIPA harus dikembangkan secara integratif melalui bahasa dan kebudayaan. 

"Cara ini dapat membantu internasionalisasi universitas sekaligus mendidik mahasiswa untuk belajar tentang Indonesia," kata Arif yang juga Ketua APPBIPA Jawa Timur ini.
Program integratif yang dikembangkan antara lain pembelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Indonesia untuk tujuan riset, pengetahuan budaya Indonesia, keterampilan menulis riset dalam bahasa Indonesia.

Lebih lanjut, ia berharap anggota APPBIPA mampu mewujudkan internasionalisasi Bahasa Indonesia melalui aksi nyata dan kinerja yang terancang. 

"Diperlukan kesadaran dan tanggung jawab yang tulus untuk memajukan BIPA, bahasa dan bangsa Indonesia di mata dunia," katanya.

Hadir pada pertemuan tersebut, Dewan Pembina APPBIPA Pusat, Dr Widodo HS, Kepala APBIPA Pusat, Dr Liliana Muliastuti MPd, serta pimpinan Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) dari perguruan tinggi se-Jawa Timur.

(Sumber : Antara News/zonalima.com)

Internasionalisasi Bahasa Indonesia Bagian dari Amanah UUD 45


Sebuah telur dimasukkan ke dalam gelas yang berisi air bening dan langsung tenggelam. Telur tersebut dimasukkan lagi oleh siswa yang lain ke gelas yang airnya ditambah dengan dua sendok garam, hasilnya melayang. Saat air tersebut ditambah lagi dengan dua sendok garam,  telur itu mengapung.

"Percobaan ini dilakukan agar siswa semenjak dini sudah didorong menjadi ilmuwan kecil, yaitu belajar dengan langsung melakukan proses-proses ilmiah," tutur salah seorang guru madrasah ibtidaiyyah di Makassar, Dian, saat mengikuti pelatihan pembelajaran yang digelar USAID PRIORITAS di Makassar, Rabu (6/4/2016).

Siswa lainnya membuat percobaan menghasilkan sumber energi dari gabungan tomat, kentang, dan jeruk. Buah-buah itu dihubungkan dengan pelat dan seng dan lampu LED. Ketika digabungkan semua, menyalalah lampu LED tersebut.

Para siswa selama pembelajaran turut difasilitasi oleh para guru yang mengikuti proses pembelajaran dalam merangkai laporan percobaan sesuai dengan bahasa mereka sendiri. Awalnya, mereka dipandu menceritakan dengan lisan mereka sendiri apa yang sudah dilakukan. Setelah mampu menceritakan secara lisan, mereka diminta menuliskan laporan secara tertulis.  

Laporan yang mereka tulis sangat runut, terdiri dari tujuan percobaan, alat dan bahan, langkah-langkah kegiatan, data dan analisis hasil percobaan dan kesimpulan.
"Dengan pembelajaran yang kita lakukan, siswa menjadi terstimulasi untuk berpikir secara ilmiah semenjak dini," ujar Dian.


Naskah soal Ujian Nasional (UN) 2016 untuk tingkat SMA sudah tiba di Kota Sabang, Aceh. Dinas Pendidikan Kota Sabang dan pengelola sekolah-sekolah tingkat SLTA di sana sudah siap menyelenggarakan UN manual maupun berbasis komputer.

Kepala Pendidikan Menengah Dinas Pendidikan Kota Sabang, Fajri di Sabang, Sabtu, mengatakan, "Naskah soalnya sudah kami terima, dan hasil perhitungan sementara tidak ada yang kurang. Untuk keamanan, naskah soal itu diamankan di Polres Sabang," katanya.

Menurut dia, sebelum menghadapi UN 2016 pada 4-6 April mendatang, para siswa sudah dibekali dengan berbagai pengayaan, yang difasilitasi oleh Disdik dan sekolah masing-masing.

"Jumlah siswa yang akan mengikuti UN keseluruhan 382 siswa, yang terdiri dari SMA Negeri 1, SMA Negeri 2, SMA Swasta Al-Mujaddid dan MAN. Kemudian yang mengikuti UNBK hanya SMK 1, jumlah siswanya 62," jelasnya.

Lebih lanjut, Kepala SMK Sabang, Fakhri, siap menyelenggarakan UNBK, dan semua tahapannya sudah berjalan lancar. 

Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dalam proses belajar, katanya, dirinya juga mengakui sudah mengantispasi. 

"Kami baru perdana menyelenggarakan UNBK, secara teknis tidak ada kendala, Kementerian Pendididikan juga sudah mengirimkan dua unit komputer cadangan untuk mengantispasi. Pihak sekolah juga sudah menyiapkan genset, jika listrik terjadi pemadaman akibat faktor cuaca," imbuhnya. (Antara News)


Jakarta (1 April 2016)---Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) siap melaksanakan  Ujian Nasional 2016, yang akan mulai berlangsung 4 April nanti. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan menyampaikan yang penting dibicarakan tentang Ujian Nasional (UN) kali ini adalah soal kejujuran, bukan lagi soal kelulusan. Sejak 2015 UN tidak lagi menjadi penentu kelulusan. Kelulusan ditentukan oleh sekolah, melalui ujian sekolah, bukan UN.

“Yang dibicarakan tentang UN saat ini adalah kejujuran, bukan kelulusan. Prestasi penting, jujur yang utama. Ujian itu tidak boleh menghalalkan segala cara. Tidak ada lagi ‘subsidi jawaban’. Ini berarti Revolusi Mental yang dicanangkan Presiden sudah mulai terlaksana.,” kata Mendikbud Anies Baswedan, saat konferensi pers UN 2016, di Kantor Kemendikbud Jakarta, Jumat (1/04).

Menurut Anies Baswedan, yang menarik dari UN 2016 ini adalah sekolah-sekolah yang melaksanakan UN Berbasis Komputer (UNBK) tahun 2016 ini meningkat 900%.
“Tahun lalu 500 sekolah, tahun ini 4.400 sekolah melaksanakan UNBK. Dari data Indeks Integritas UN tahun lalu, sekolah yang melaksanakan UNBK, tingkat kecurangan nol, atau indeks integritas UN-nya 100%,” kata Mendikbud Anies Baswedan, saat konferensi pers UN 2016, di Kantor Kemendikbud Jakarta, Jumat (1/04).

Provinsi dengan tingkat partisipasi terbesar UNBK adalah Yogyakarta. Sementara Propinsi Papua dan propinsi baru Kalimantan Utara (Kaltara) juga masuk dalam daerah yang dengan tingkat partisipasi UNBK tinggi: Papua 10% dan Kaltara 20%.
“Bahkan di Surabaya, pada UN 2016 seluruh sekolah melaksanakan UNBK,” kata Anies Baswedan, yang berencana meninjau pelaksanaan UNBK di Surabaya pada UN hari pertama, 4 April 2016.

Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK)
Secara nasional siswa yang mengikuti UNBK juga mengalami peningkatan drastis. Sebanyak 170.000 siswa tahun lalu, tahun 2016 ini menjadi 921.000 siswa. Rinciannya sekitar 156.171 siswa SMP dan MTs, serta sekitar  267.230 siswa SMA dan MA di seluruh Indonesia, sedangkan untuk SMK sekitar  498,177 siswa. UNBK tahun 2016 ini untuk setiap jenjang sekolah kurang lebih 1010 SMP dan MTs, 1297 SMA dan MA, serta 2103 SMK di seluruh Indonesia.
Pada penyelenggaraan tahun kedua ini UNBK masih menggunakan sistem semi-online, yaitu soal dikirim dari server pusat secara online melalui jaringan (sinkronisasi) ke server lokal (sekolah), kemudian ujian siswa dilayani oleh server lokal (sekolah) secara offline. Selanjutnya hasil ujian dikirim kembali dari server lokal (sekolah) ke server pusat secara online (upload). 

Kepala Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik) Kemendikbud Nizam mengatakan bahwa dalam pelaksanaan UNBK, Kemendikbud melakukan kerjasama dengan berbagai pihak, di antaranya perguruan tinggi seperti ITS, UI, UGM, ITB serta BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) untuk teknologi dan pengamanannya.
“Kemendikbud juga bekerjasama dengan Kemenkominfo untuk pengamanan cyber-nya, serta perusahaan telekomunikasi untuk keamanan koneksi saat sinkronisasi data,” ujar Kapuspendik Nizam. 

Beberapa manfaat yang diperoleh dengan UNBK antara lain: 
1. Minimnya kemungkinan soal yang terlambat datang, tertukar dan ketidakjelasan hasil cetak soal, 
2. Proses pengumpulan dan penilaian jauh lebih mudah, 
3. Hasil ujian nasional dapat diumumkan jauh lebih cepat,
4. UNBK mendorong terwujudnya efektifitas, efisiensi dan transparansi penyelenggaraan UN.


UN dilaksanakan untuk mengukur kompetensi siswa dan menjadi salah satu dasar untuk seleksi ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, selain untuk melakukan pemetaan capaian pendidikan secara nasional. Sejak tahun 2015 lalu, selain mengukur pencapaian akademik, UN juga untuk mengetahui tingkat kejujuran ujian dengan hasil IIUN (Indeks Integritas Ujian Nasional) untuk setiap sekolah.

Salah satu temuan yang menarik dari hasil evaluasi pelaksanaan UN 2015 yang lalu adalah tingkat kecurangan pada pelaksanaan UNBK adalah nol, sementara tingkat kecurangan yang bervariasi ditemukan pada pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Pensil dan Kertas. 

Perihal kesiapan dan persiapan UN Berbasis Pensil dan Kertas (UNPK) hingga 1 April 2016 distribusi soal ke suluruh Indonesia hampir 100%. Pada tanggal 2 April 2016 akan mencapai 99.9%, dan tinggal distribusi soal untuk kota Pontianak, Kalimantan Barat yang akan terkirim 3 April 2016.

Untuk sekolah-sekolah yang berada di daerah pelosok, distribusi naskah telah dilakukan lebih dahulu untuk mengantisipasi keterlambatan datangnya naskah. Sedangkan untuk sekolah-sekolah yang tidak sulit dicapai, dijadwalkan naskah akan tiba pada 2 April 2016. Ujian Nasional tahun 2016 akan dilaksanakan secara serentak pada tanggal 4 April untuk Siswa SMA dan sederajat, serta tanggal 9 Mei untuk siswa SMP dan sederajat.

Indeks Integritas UN
Sejalan dengan gerakan revolusi mental yang dicanangkan Presiden Joko Widodo, sejak tahun 2015 Kemendikbud memperkenalkan Indeks Integritas Ujian Nasional (IIUN) yang diharapkan dapat mendorong terwujudnya perilaku jujur dan berintegritas bagi para para pelaku ujian nasional. 

Dalam perbandingan nilai (akademik) ujian nasional dengan IIUN, didapatkan bahwa masih banyak sekolah di Indonesia yang memiliki indeks integritas rendah meski rata-rata capaian nilai ujian nasionalnya tinggi. Idealnya, baik capaian nilai ujian nasional maupun indeks integritas suatu satuan pendidikan harus sama tinggi. 

Guna mendorong kejujuran dan tingkat integritas (IIUN) yang baik, Kemendikbud memberikan apresiasi kepada sekolah di seluruh Indonesia yang melaksanakan Ujian Nasional dengan menjunjung prinsip-prinsip integritas. Lebih dari 12.000 sekolah telah mencapai nilai IIUN tinggi (di atas 80) mendapat Piagam Penghargaan Integritas dari Mendikbud. Bahkan 500 sekolah dengan nilai IIUN di atas 92 diundang Presiden Jokowi ke Istana, 21 Desember 2015 lalu untuk menerima penghargaan. 

Pelibatan Publik
Pada UN 2016 ini Kemendikbud juga mendorong keterlibatan publik dalam menyukseskan Ujian Nasional yang berintegritas. Bagi masyarakat Kemendikbud menyediakan saluran untuk berkomunikasi dan mendapat informasi mengenai Ujian Nasional, atau memberi masukan dan pengaduan melalui Posko UN, laman un.kemdikbud.go.id, media sosial dengan menyertakan tagar #UN2016 atau mention akun @Kemdikbud_RI di twitter.

Selain itu, masyarakat juga dapat menyampaikan pertanyaan atau pengaduan seputar Ujian Nasional melalui call center 177, nomor telepon 0215703303, telpon seluler 0816979177, SMS di 0811976929, serta e-mail unpuspendik@kemdikbud.go.id dan  pengaduan@kemdikbud.go.id.*** 

Mendikbud (Foto: liputan6.com)
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan menyatakan substansi Ujian Nasional (UN) sudah kembali ke tujuan awalnya, yakni untuk mengetahui keberhasilan belajar siswa.

"Bahwa ujian tidak menghalalkan segala cara, ujian dijalani dengan kejujuran dan ujian dipakai untuk mengetahui sampai sejauh mana pencapaian yang didapat," kata Anies di SMK Negeri 57, Jakarta.

Ia menjelaskan bahwa persiapan UN tahun ini baik-baik saja.

"Alhamdulillah baik-baik saja, teman-teman juga bisa lihat berita-berita tentang persiapan ujian nasional dan saya senang di banyak tempat dilakukan pendalaman materi persiapan ujian bukan bicara tentang hal-hal mistis lagi, yang dibicarakan adalah kejujuran," tutur Anies.

Bahkan, kata dia, istilah "subsidi jawaban" dari seorang kepala dinas pendidikan sudah tidak ada lagi.

"Itu menarik juga istilah subsidi jawaban, saya juga baru tahu bahwa ternyata ada istilahnya sehingga Revolusi Mental yang dicanangkan oleh presiden sudah mulai terasa efeknya, revolusi mentalnya di mana? Bahwa ujian tidak menghalalkan segala cara, ujian dijalani dengan kejujuran," kata Anies.

Ia mengatakan bahwa ujian harus dijalani dengan jujur dan  dipakai untuk mengetahui sampai sejauh mana pencapaian siswa.

"Jadi, itulah tujuan kita berkaca karena tujuan ujian salah satunya untuk berkaca di mana letak kekurangan dan kelebihan kita," ujarnya.

Ujian Nasional 2016 akan berlangsung pada 4-6 April untuk SMA/MA, dan 4-7 April untuk SMK.


Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan menyatakan sampai detik ini persiapan logistik menjelang Ujian Nasional SMA/MA dan SMK pada 4 April 2016 berjalan lancar sampai di mana peserta ujian berbasis komputer jauh lebih banyak dibandingkan dengan tahun sebelumya.

"Persiapan logistik dan lain-lain berjalan lancar dan tahun ini kita menyelenggarakan ujian nasional berbasis komputer di banyak sekolah jadi jauh lebih banyak jangkauannya," kata Anies di sela acara "Kelas Inspirasi Sineas (KIS) Sebagai Rangkaian Peringatan Hari Film Nasionl (HFN)" di SMK Negeri 57, Jakarta.

Ia mengungkapkan sekitar 960 ribu anak akan mengikuti UN berbasis komputer.

"Jadi, lebih banyak dari pada tes masuk perguruan tinggi, tes masuk perguruan tinggi hanya 600 ribu anak itu aja masih belum menggunakan komputer, ini kita sudah menggunakan komputer untuk 960 ribu anak. Dengan menggunakan komputer, kualitas soal Insya Allah bisa ditingkatkan," kata Anies.

Menurut Anies, apabila soalnya memakai kertas, jawabannya selalu pilihan ganda, namun kalau menggunakan komputer jawaban bisa dengan gambar dan tulisan sehingga jauh lebih kaya.

"Jadi, Alhamdulillah persiapannya baik. Insya Allah Senin (4/4) berjalan dengan baik, mohon doanya," ucap Anies.



Kemendikbud --- Dua hasil eksperimen siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) Indonesia diluncurkan dengan roket Atlas 5 ke International Space Station (ISS) stasiun luar angkasa oleh NASA dari Cape Canaveral, Florida, pada hari Rabu 23 Meret 2016 pukul 10.05 WIB. Dua ekspreimen tersebut adalah  tentang pertumbuhan ragi oleh siswa SMA Unggulan Del di Laguboti, Sumatera Utara, dan pertumbuhan padi oleh siswa SMA di Jakarta dan Bandung.
Usai peluncuran roket tersebut, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan menyapa para siswa SMA Unggulan Del di Laguboti, Sumatera Utara, melalui konferensi video. “Saya apresiasi kepada adik-adik yang telah melakukan hal yang luar biasa melakukan pekerjaan eksperimen level global,” demikian apresiasi disampaikan Mendikbud saat melakukan komunikasi melalui konferensi video, di kantor Kemendikbud, Senayan, Jakarta.
Kesepuluh siswa tersebut adalah Anisa Auvira, Freddy Sahala Simanjuntak, Gilbert Ebenezer Nadapdap, Gomos Parulian Manalu, Hagai, Raja Sinulingga, Jonatan Kevin Daniel, Joy Patria Tara Gultom, Junita Sirait, Martin Anugrah Siahaan, dan Rudini Tua Silitonga. Para siswa tersebut melakukan eksperimen/penelitian pertama yang disampaikan kepada NASA tentang pertumbuhan ragi (yeast) di luar angkasa dalam kondisi near-zero gravity.
Dalam melakukan penelitian, para siswa tersebut membagi menjadi tiga tim, yakni conceptor, engineering, dan programing. Tugas dari timconceptor adalah membuat konsep yang harus dilakukan dalam melakukan penelitian fermentasi di luar angkasa (space), dengan tujuan melihat hasil fermentasi menghasilkan alkohol sebagai sumber energi dan antiseptik. Selanjutnya tim engineering membuat robot yang akan mengontrol penelitian dengan ukuran 15 sentimeter x 3 sentimeter x 5 sentimeter.
Fermentasi ragi tersebut diletakan ditabung berukuran 3 sentimeter x 5 sentimeter, dan dibuatkan LED untuk pencahayaan, serta memasukkan glukosa kedalam kamar (chamber) menggunakan pompa. Kemudian untuk tim programming bertugas untuk menjalankan hasil penelitian tersebut menggunakan perangkat lunak (software) dari NASA.
Dalam hitungan menit, pesawat luar angkasa/roket Atlas 5 menggendong Cygnus menuju orbit ISS. Para astronot yang sedang tinggal di ISS akan memindahkan perangkat eksperimen tersebut ke Nanoracks, suatu fasilitas penelitian di Laboratorium Amerika Serikat di ISS.Perangkat micro-lab yang dirancang oleh para siswa SMA tersebut dilengkapi dengan kamera digital dan perangkat micro-controller, sehingga pertumbuhan ragi dan padi dalam selama eksperimen berlangsung dapat diamati dari Bumi atau di manapun tempat asal terhubung dengan Internet, dengan mengunduh foto-foto dari micro-lab yang dipancarkan dari ISS ke Bumi.
Mendikbud berharap prestasi para siswa tersebut dapat dipertahankan, dan menginspirasi pada generasi berikutnya. “Mudah-mudahan jadi inspirasi para siswa di seluruh Indonesia. Bagi para guru bisa membuat anak-anaknya punya cita-cita tinggi. Dan saya mengucapkan terima kasih, serta selamat untuk adik-adik yang telah berhasil dalam penelitiannya,” pungkas Mendikbud. 

Ki-ka: Rudi Ependi, Erna Irnawati, Asep Hilman, Kidup Supriadi, Ruwiyati Ahmadi, dan Mark Heyward menyimak paparan daerah.
Cirebon – Guru-guru berusia muda sepatutnya memacu keprofesian diri dengan upaya terus-menerus meningkatkan daya abstraksi dan komitmennya. Setiap guru di Jawa Barat, baik guru sekolah maupun guru madrasah, didorong untuk mengembangkan keprofesian diri dengan menumbuhkan soft skills, meliputi integritas, kecerdasan, inovasi, inisiatif, idealisme, kemandirian, empati, kesabaran, dan sifat positif lainnya.

Demikian diungkapkan oleh Asep Hilman, kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, pada lokakarya perencanaan strategis pengembangan keprofesian berkelanjutan guru (PKB) tingkat Jawa Barat di Cirebon, Selasa (15/3). Lokakarya diselenggarakan atas kerjasama Badan Pembangunan Internasional Amerika (USAID), melalui program PRIORITAS (Prioritizing Reform, Innovation, and Opportunity for Reac  hing Indonesia’s Teachers, Administrators, and Students), dengan pemerintah Provinsi Jawa Barat, untuk menyusun strategi pengembangan keprofesian berkelanjutan guru (PKB). Hadir di sini, para pihak pemangku kepentingan pendidikan di Jawa Barat dan dua belas kabupaten/kota mitra USAID, yang terkait langsung dengan peningkatan kualitas dan kapasitas guru. Peserta lokakarya meliputi para perwakilan dinas pendidikan, kementerian agama, Bappeda, LPMP (Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan), P4TK (Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan), dan perguruan tinggi.

Sediono Abdullah dari P4TK Jawa Barat mengatakan, pihaknya mengembangkan keprofesian guru dengan mengacu pada kondisi titik-injak (baseline) para guru, agar jelas pembinaan macam apa yang dibutuhkan guru. Sasaran pokok P4TK adalah meningkatkan keprofesian guru agar lebih kompeten, bermartabat, dan sejahtera. Pengembangan keprofesian guru dilakukan dengan dua model, yakni model daring dan model tatap-muka. Berkenaan dengan model daring, para guru dianjurkan untuk aktif mengikuti pembinaan secara daring dengan mengakses situs P4TK. 

Sementara itu, secara tatap-muka, berbagai pusat belajar yang dibangun USAID di daerah kab/kota hendaknya menjadi semacam work station bagi para guru untuk secara terus-menerus mengembangkan kepofesian diri.

Kidup Supriadi, Kepala Sub Direktorat Pendidik dan Tenaga Kependidikan Kemenag pusat, mengaku, dalam pengelolaan pendidikan dan tenaga kependidikan, Kemenag memusatkan perhatian pada pengembangan keprofesian guru (PKB). Kemenag selalu bersinergi dengan kemendikbud untuk PKB. Bantuan USAID PRIORITAS dalam pengembangan keprofesian guru madrasah sangat penting karena USAID menawarkan pola PKB yang memungkinkan guru madrasah mengalami peningkatan keprofesian diri.

Erna Irnawati, koordinator USAID PRIORITAS Jawa Barat, sebut komunitas belajar (learning community) atau komunitas praktik (community of  practice) merupakan wahana potensial untuk menopang peningkatan kapasitas dan profesionalitas guru. Pelatihan guru seyogianya dijalankan secara berbasis komunitas belajar, yakni ruang belajar beragam praktik pendidikan yang baik. 

Guru dapat memanfaatkan tunjangan sertifikasi untuk mendanai dirinya mengembangkan diri melalui komunitas belajar. Pemerintah dapat menyiapkan peraturan guna mendorong para guru memaksimalkan komunitas belajar atas biaya mandiri. Erna yakin proses PKB melalui KKG/MGMP dan komunitas belajar lain akan jauh lebih efektif dan efisien bagi peningkatan keprofesian guru.
Rina Mutaqinah, perwakilan dari LPMP Jabar, klaim program USAID PRIORITAS sangat sejalan dengan pendekatan LPMP dalam pengembangan keprofesian guru. 

Pihaknya melakukan pembinaan sekolah rujukan sebagai sekolah model. LPMP rutin melakukan pemetaan mutu dan analisis kebutuhan sekolah dalam rangka menyusun program pelatihan guru yang sesuai kebutuhan sekolah. Juga seperti USAID, LPMP memanfaatkan learning communityuntuk menumbuhkan budaya mutu di tingkat sekolah. Pihak LPMP menggalakkan pendampingan sekolah agar memenuhi standar mutu.

Mark Heyward, penasehat USAID PRIORITAS bidang tatakelola dan manajemen pendidikan, menyarankan, perlu dijalin koordinasi yang erat dan sistematis antara para pihak yang terkait dengan pengembangan keprofesian guru, seperti kemendikbud, kemenag, LPMP, dan P4TK. Juga perlu koordinasi yang terjalin antara berbagai pemangku kepentingan di level provinsi dan di tingkat daerah kab/kota. Berbagai pihak yang berwenang, kompeten, dan bertanggung jawab pada peningkatan profesionalitas guru seharusnya berkoordinasi dan tidak bekerja sendiri-sendiri. Jangan sampai setiap pihak asyik sendiri menyelenggarakan berbagai model pendidikan dan pelatihan guru, sehingga satu sama lain cenderung tidak singkron. “Koordinasi semacam ini memungkinkan PKB menjadi jauh lebih efektif dan efisien,” ucapnya.


M. Ali Ramdhani, Wakil Rektor bidang kerjasama UIN Sunan Gunung Djati Bandung, membuka peluang kerjasama UIN dengan pemerintah kab/kota dalam program PKB. Fakultas Tarbiyah dan Keguruan memiliki SDM yang baik untuk membantu daerah kab/kota meningkatkan kompetensi guru madrasah. Pada prinsipnya, kata Ali, kerjasama kelembagaan UIN dengan pemda/pemkot kiranya merupakan kerjasama setara dalam suasana kemitraan. Seperti USAID, kata Ali, UIN menyebut madrasah sebagai madrasah mitra bukan madrasah binaan. [DS]


___________________________________________________________________________________
Program USAID Prioritizing Reform, Innovation, Opportunities for Reaching Indonesia’s Teacher, Administrators, and Students (USAID PRIORITAS) adalah program lima tahun yang didanai oleh United States Agency for International Development (USAID) dan didesain untuk meningkatkan akses pendidikan dasar yang berkualitas di Indonesia. USAID PRIORITAS adalah bagian dari program kerja sama antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Amerika Serikat. Program ini telah diterapkan di sembilan Provinsi (Aceh, Sumatera Utara, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Papua, dan Papua Barat). 

Dewi Susanti dari TNP2K memaparkan tentang inovasi untuk meningkatkan kinerja guru pada pertemuan tata kelola guru yang difasilitasi USAID PRIORITAS, di Jakarta, 3 Maret 2016.
Jakarta – Ketidakmerataan distribusi guru, kehadiran guru, peningkatan kualitas guru, dan proyeksi kebutuhan guru ke depan menjadi perhatian berbagai lembaga baik pemerintah maupun lemb aga donor, dengan membuat studi dan melakukan pendampingan terhadap pelaksanaan tata kelola guru di Indonesia. 

Untuk mensinergikan hasil studi dan pendampingan implementasi kebijakan tata kelola guru di tingkat nasional dan daerah, USAID PRIORITAS  memfasilitasi diskusi tata kelola guru yang dihadiri oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK), Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan (Puslitjakdikbud) Kemendikbud, staf khusus Mendikbud, ACDP (Analytical and Capacity Development Partnership), KIAT Guru (Kinerja dan Akuntabilitasi Guru) dari TNP2K Kantor Wapres, ICW (Indonesia Corruption Watch), Paramadina, Bank Dunia, program INOVASI (DFAT), dan USAID, serta tim tata kelola dan manajemen USAID PRIORITAS (3/3).

"Pertemuan ini untuk mengidentifikasi berbagai hasil studi dan pendampingan yang berkaitan dengan tata kelola guru. Kami di Ditjen GTK merasa sangat terbantu bahwa banyak pihak yang telah melakukan penelitian dan membuat contoh bagaimana mengelola guru di lapangan. Hasil penelitian dan pengalaman pengelolaan guru ini akan kami sinergikan dengan grand design yang telah kami susun,” ungkap Nurzaman, Sekretaris Dirjen GTK Kemdikbud.

David Harding, dari ACDP menyebut ada tiga permasalahan guru di Indonesia. Pertama, ketidaksesuaian antara kebutuhan dengan pasokan guru. Jumlah guru terlalu banyak dan distribusinya tidak merata. Banyak bermunculan LPTK bermutu rendah yang menghasilkan banyak calon guru yang tidak bermutu. Kedua, Ketidakhadiran guru di sekolah. Ketiga, masalah peningkatan kualitas guru. 

”Kami menemukan ada 10 persen guru yang tidak hadir di sekolah. Sementara ada 14 persen guru yang hadir di sekolah tetapi tidak hadir di kelas,” kata David. 

Dia juga menyarankan perlu adanya mekanisme kontrol untuk rekruitmen guru, khususnya guru honorer di sekolah karena juga terkait dengan anggaran dari pemerintah.

Febri Hendri, peneliti dari ICW dalam presentasinya menyampaikan agar penataan dan pemerataan guru efektif dilaksanakan, harus ada sangsi bagi daerah yang tidak melaksanakan, dan ada pemberian insentif bagi daerah yang berhasil mengimplementasikan penataan distribusi guru. “Kalau perlu kuota guru PNS diberikan kepada daerah yang penataan guru di daerahnya sudah berhasil dilaksanakan,” tukasnya. 

Totok Amin Soefijanto dari Paramadina, memaparkan masih ada sekitar 51% guru yang belum disertifikasi dengan strategi pengembangan profesi yang baik. 

“UKG di Indonesia adalah yang paling masif di dunia. Melalui UKG kita sukses memiliki alat untuk mengukur guru. Hanya ukurannya tidak cukup di atas kertas atau di atas komputer. Keterampilan guru mengajar di kelas juga perlu diperhatikan. Yang juga lebih penting adalah menyelenggarakan pelatihan guru yang baik dan berkelanjutan dengan melibatkan LPTK,” kata Totok.

Dewi Susanti dari TNP2K memaparkan program KIAT Guru, sebuah program yang mengkaitkan pencairan tunjangan di kabupaten dengan kinerja guru. Program yang melibatkan masyarakat dalam pemantauan kinerja guru ini dianggap sukses dan diusulkan untuk dipakai dalam pencairan tunjangan profesi secara nasional.
Totok Amin Soefijanto, peneliti dari Paramadina memaparkan hasil penelitian penataan dan pemerataan guru pada pertemuan tata kelola guru yang difasilitasi USAID PRIORITAS, di Jakarta, 3 Maret 2016
Mark Heyward, Penasehat Tata Kelola dan Manajemen Pendidikan USAID PRIORITAS, menyampaikan bahwa USAID PRIORITAS sejak tahun 2013 telah memfasilitasi implementasi penataan dan pemerataan guru di 50 kabupaten mitra di 7 provinsi, dan saat ini sedang mengembangkan perencanaan strategis pengembangan keprofesionalan berkelanjutan (PKB). 

“Kami sudah berhasil memfasilitasi penggabungan sekolah SDN sebanyak 526 sekolah, pembelajaran kelas gabung sebanyak 105 sekolah, mutasi guru SD dan SMP lebih dari 5000 guru, guru mengajar di lebih dari satu sekolah dengan tetap sesuai dengan sertifikat pendidiknya 1267 guru, serta alih fungsi dari guru mapel di SMP dan SMA menjadi guru kelas di SD sebanyak 675 guru,” katanya.


Beberapa lembaga lainnya secara bergantian menyampaikan rekomendasi untuk penataan penyebaran guru dari hasil studi yang dilakukan. Hasil dari pertemuan ini akan dipertajam dengan membahas rencana aksi untuk mendukung  ekosistem tata kelola guru yang telah dikembangkan oleh Kemdikbud. 

Kegiatannya dalam bentuk forum nasional yang akan dilaksanakan pada bulan April 2016 mendatang di Jakarta. Forum tersebut akan membahas rencana aksi dalam penerapan kebijakan penataan dan pemerataan guru dengan mengundang para pengambil kebijakan di tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten/kota.
Powered by Blogger.